Sunday, October 10, 2010

Saya Ingin Melahirkan Secara Normal

by Ratih Wiweka on Friday, October 8, 2010 at 11:31am
Nostalgia saat-saat ison lahir tanggal 11 agustus 2009.

Ison lahir melalui jalan operasi caesar. Suatu hal yg tidak pernah saya bayangkan dan saya inginkan untuk melahirkan anak saya. Selama kehamilan 9 bulan, yang ada dalam pikiran saya adalah: saya bisa melahirkan secara normal, melalui suatu proses alamiah tanpa induksi/obat-obatan lainnya, saya akan melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), dan saya akan memberikan ASI ekslusif minimal selama 6 bulan untuk bayi saya.

Apa mau dikata, tidak ada satupun dari yang saya inginkan itu jadi kenyataan.

Hari itu tgl 10 agustus malam, saya masuk rumah sakit karena sudah lewat due date (tgl 9 agustus), tanda2 akan melahirkan belum juga terlihat. Dokter mengatakan saya sudah bukaan 3, tapi saya tidak merasakan mules sama sekali. 11 agustus pagi, saya harus diinfus untuk diberikan cairan pelunak rahim. Sekitar pukul 11, saya mengalami bloody show, tapi setelah dilakukan PD (Pemeriksaan Dalam), ternyata saya masih tetap bukaan 3-4. Sekitar pukul 1, saya diinduksi yang sakitnya luaarrrr biasa. Sakitnya diinduksi harus saya "nikmati" hingga pukul 5 sore. Karena tanda-tanda akan melahirkan tidak juga terlihat, ketuban saya dipecahkan dengan sengaja. Dari situ terlihat ketuban saya sudah berwarna hijau dengan jumlah yang sangat sedikit. Akhirnya, dokter memutuskan saya harus operasi caesar untuk menghindari bayi keracunan air ketuban. Apalagi saat itu saya tidak juga nambah bukaan, dan tidak memperlihatkan tanda-tanda akan melahirkan. Masuklah saya ke ruang operasi dengan perut yang masih mules luar biasa akibat efek induksi.

Setelah operasi caesar, saya tidak bisa bergerak dan kepala saya pusing sekali. Saya pun tidak bisa melakukan IMD. Tapi alhamdulillah, ison bisa menyusui satu jam setelah dilahirkan dengan bantuan suster. Saya meminta agar ison satu ruangan dengan saya (rooming in) karena saya bertekad untuk memberikan ison ASI eksklusif. Alhamdulillah, RS Hermina tempat saya melahirkan sangat support ASIX dan IMD. Akhirnya saya susah payah menyusui ison dengan keterbatasan fisik saya yang masih harus belajar untuk digerakkan, dimiringkan ke kiri dan ke kanan. Ternyata untuk menggerakkan badan saja rasanya sakit sekali, linu terutama bagian bekas operasi. Karena jumlah ASI saya yang masih sedikit, ison menyusui hampir sepanjang hari dan sepanjang malam, dan itu berlangsung sampai hari terakhir saya di rumah sakit. Saya sedih dan kasihan melihat dia tidak bisa tidur nyenyak karena mungkin masih merasa lapar. Tapi saya sudah bertekad untuk tidak memberikan dia susu formula, apalagi di awal-awal kehidupannya. Hingga pada saatnya pulang, ison mengalami kuning dan dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit. Akhirnya, saya pulang tanpa membawa pulang ison. Yang paling menyedihkan adalah, 2 hari berikutnya saat saya ke rumah sakit untuk menyusui ison, saya hampir pingsan karena lemas dan tidak kuat melawan rasa pusing. Saya baru sadar kalau pasca operasi, saya tidak bisa menjaga kondisi tubuh dengan banyak tidur dan istirahat, karena ison terus menerus menyusui. Mungkin itu yang menyebabkan kondisi fisik saya turun drastis. Akhirnya saya menyerah dan mengizinkan ison untuk diberi susu formula.

Dengan sederet peristiwa di atas, tidak berlebihan kalau saya sangat menginginkan untuk melahirkan anak kedua ini secara normal. Meskipun dari beberapa dokter yang saya temui, kebanyakan langsung memberikan vonis caesar mengingat jarak kehamilan pertama dengan yg sekarang terhitung sangat dekat. Alhamdulillah, pada kehamilan saya yg menginjak bulan ke-7 ini, saya bertemu Dr. Dian di RS Immanuel. Beliau satu dari segelintir dokter yang optimis kalau saya bisa melahirkan normal meskipun sebelumnya pernah caesar, dengan catatan bahwa syarat-syarat untuk melahirkan normal terpenuhi. Beliau juga support ASIX dan IMD. Saya hanya berdoa, mudah-mudahan Allah SWT memudahkan niat saya untuk melahirkan normal, dan kalaupun saya harus mengalami operasi caesar untuk yang kedua kalinya, saya berdoa mudah-mudahan rasa sakit yang saya alami tidak seberat pasca operasi yang sebelumnya. Amiiin.

No comments: